Tanpa ia sadari...


Sudah 3 tahun jomblo ini terus berlanjut, tanpa ada perubahan darinya. Tapi perjuangan gue engga sampe disitu, masih panjang perjalanan gue dibumi ini. Kalau misalkan gue menyerah sampai disini, mungkin gue gak akan mendapatkan sesuatu yang bernama cinta.

Biarpun, orang disekitar selalu menyabutkan gue ini sebagai seorang yang pecundang dan takut akan cinta yang datang dihadapan seorang. Sifat asli gue, ya, ini. pendiem, pemalu dan suka malu-maluin kalo gak ngerti  akan sesuatu yang baru.

Pernah suatu ketika, gue masih sekolah di SMA kelas 2, gue suka sama cewek yang gak seharusnya gue sukai, namanya Sinna. Bisa dibilang dia seorang yang sempurna dengan kesempurnaan wajah yang begitu menawan dihadapan teman-temannya dan dia punya sebuah tahi lalat yang gak bisa gue lupa.

Gue, apa?, hanya seorang kutu kupret buku yang gak populer. Kelakuannya : baik, pendiem, kemanapun selalu membawa sebuah buku, pinter, tapi engga begitu pinter dengan rerumusan kimia.

Mengapa kepecundangan ini selalu melekat pada diri gue sendiri, gue gak selalu percaya akan pembicaraan orang sekitar. Gue lebih mempercayai apa kata hati gue sendiri, itu lebih baik.

Kembali kepembicaraan. Iya, gue beneran single, sampai sekarang status gue masih single, sebenernya gak mau dipanggil jomblo. Waktu itu gue lagi anget-angetnya digosipin tentang gue dengan Sinna. Temen sekelas yang katanya cantik itu.

Gue suka Sinna karena ditawarin donat oleh temen sekelas gue.

     "Aris mau donat gak ?" Dia menawari gue sebuah donat berlapis coklat

     "Iya boleh, berapaan satunya ?" Gue menanyakan harga sebuah donat yang lumayan gede.

     "Satunya cuma serebu doang.." 

     "Mahal bener, biasanya cuma gope (dibaca 500 rupiah). Boleh nyobain dulu gak, kali aja enak. tapi kalo gak enak nanti dikembaliin lagi.."

     "Yaudah nih.. Dia memberikan gue donat"

     "Mmm.. Lumayan.." kata gue

     "Lumayan enak maksud lo ?" dia bertanya penasaran

     "Lumayan laper.."

Namanya Ria, temen sekelas yang punya inventasi perdagangan ilegal didalam kelas, dia selalu membawa 2 buah bungkusan besar, yang seperti badannya juga besar. Sinna adalah salah satu pembeli yang sangat menyukai donatnya Ria. "Apakah isi di dalam donat itu" gue berfikir. Kenapa begitu banyak orang yang suka dengan donatnya Ria, termasuk gue juga suka, dan kalo gak bawa duit, gue orang pertama yang sering ngutang.

Pernah suatu ketika gue lagi baca buku didalem kelas sendirian, gue liat ina lagi tiduran diatas meja dengan kepala yang seakan berat untuk dia angkat dengan tas yang dia jadikan sebuah bantal.

Setelah memakan donatnya Ria, Sinna memejamkan mata, lalu kemudian tidur diatas meja. "sepertinya donat itu membuat Ina tertidur, atau Ria memasukan obat tidur kedalam donatnya?" gue berfikir dengan penuh keraguan. Tapi donat yang barusan gue makan, aman-aman aja, gak ada reaksinya. Apa karena gue terlalu laper memakannya.

Sinna tertidur, 'sepertinya dia lelah' gue menatap wajahnya dari kejauhan. Lalu keisengan gue muncul dibalik sisi kesempatan untuk memotret wajah Sinna yang cantik seperti bidadari jatuh dari atap rumah.

Creck, suara kamera SLR gue berbunyi, itu tandanya gue telah memotret Sinna dengan jelas dari depan hadapannya. Nggak lama kemudian Sinna terbangun dan tersentak kaget, saat itu gue masih berdiri dihadapannya dengan sebuah kamera ditangannya.

     "Haris kok lo bawa kamera, lagi moto siapa?" tanya dia dengan penasaran ke arah gue.

     "Hmm, lagi foto anak kecil yang barusan lewat." Jawab gue gemeteran.

     "Coba Ina liat." Dia ingin melihat hasil jepretan tadi. Nah loh?

Dari pada dia mengetahui gerak-gerik gue, lebih baik gue kasih liat aja ya. Kata gue dalem hati.
  
     "Kok foto anak kecilnya engga ada?" Sinna melihat-lihat isi foto didalam kamera yang dia pegang.

     "Ii.iya tadi engga sengaja kedelete. Hehe." Jawab gue sedikit gugup.

Huuh.. Hampir saja ketauan, gue menghelai nafas panjang, kemudian kembali duduk di meja dan berpura-pura membaca buku pelajaran biologi.

Kring ~ Kring. Bell berbunyi, murid dikelas membereskan meja dan bergegas pulang. Di depan pintu kelas, gue menunggu Sinna, yang masih berada di dalam kelasnya.

Sinna pulang bareng dengan teman-temannya dan gue pulang sendirian, gue berjalan ditengah lapangan basket, ditangan kanan gue masih memegang kamera slr. Akhirnya bisa depat photo Ina juga, kata gue di dalam hati, sambil senyum-senyum sendiri. Walaupun donat yang gue makan tadi belom sempet bayar.. :D

Komentar

Postingan Populer