Love in Coffee shop
Hari itu sangatlah dingin, suhu dibawah 20 derajat celcius, pandang mata ke seberang pun tidak begitu terlihat jelas karena tertutup tebal oleh halimun (kabut tebal). Kaki terus melangkah tanpa menentukan arah dengan tujuan yang direncanakan. mata memandang pepohonan tea yang rimbun. Bersama perempuan cantik keturuan sunda asli
selama saat itu jemari tangannya berubah pucat. Tak lama gerimis sedikit-demi-sedikit membasahi tempat itu, orang disekitar menjauh mencari tempat untuk meneduh.
Tangan memeluk badan sendiri, menahan rasa dingin oleh kabut yang kian menyelimuti tempat itu. Melirik teman disamping terlihat sangat begitu kedinginan, tangan dan bibirnya pucat bergemetar, karena tertekan rasa dingin yang begitu dalam.
kami meneduh pada sebuah atap kanopi milik ibu-ibu warung yang pada saat itu sepi pengunjung
lalu beberapa saat perempuan disebelah gue bersin-bersin, sepertinya doi terkena flu
"Kamu sakit??" gue bertanya seraya duduk disebelahnya.
"Aku gppa kok,." Sambil membalas dengan senyum tipis berkesan memaksa.
seperti yang sudah gue duga, gppa-nya cewek pasti ada apa-apa "aku itu flu, kok kamu nggak peka banget sih, Hellloooohh!!"
Kasihan Ina, dia kedinginan, seharusnya gue nggak ngajak dia main ke puncak, saat dia baru sembuh dari sakitnya. Hati gue berkata. Lalu logika gue memerintahkan apa yang harus gue lakuin.. yasudah lu kasih dia jaket yang lu pake. Sekarang!!. Lalu gue mencopot jaket yang sedang gue pake.
"Ina.. Kayanya kamu kedinginan banget, wajah kamu pucet gitu, nih pake jaket gue aja." Kata gue sambil melepaskan jaket yang masih dipakai dan memberikannya ke dia.
"Yaudah boleh, tapi kamu kan kedinginan juga."
"Iya, gppa kok, aku udah biasa kedinginan." Padahal didalem hati, gue gak kuat nahan rasa dingin.
Seharusnya lu pakein tuh jaket, jangan cuma dikasih doang riis!!. Logika gue ngomel-ngomel. Lalu gue berfikir keras, Apa harus gue ambil lagi jaket itu, terus dipakein lagi ke dia. Yah, kesempatan itu sudah terlambat. Toh dia juga bukan siapa-siapa gue.
Hari itu gue cuma bisa terdiam menunggu hujan reda. Mata gue melirik ke arah Ina, sepertinya dia sudah nggak begitu kedinginan. Lalu tersadar saat hujan agak merintik, mata gue menerawang kedepan dan terlihat sebuah kedai kopi disebrang jalan, enggak jauh dari tempat gue meneduh..
"Ina", gue gak sengaja menyebut nama dia..
"Iyah.." dia menjawab, lalu menengok kearah gue.
"Sambil menunggu hujan berhenti, kita mampir ke kedai kopi dulu yuk.." Kata gue sambil nenunjuk kearah seberang jalan.
"Boleh, boleh, lumayanlah bisa ngangetin badan :)" Dia tersenyum manis kearah gue. Rasanya gue ingin terbang, tapi gue gak punya sayap buat terbang.
Lalu saat hujan agak reda, hanya gerimis yang terlihat, gue berjalan ke seberang jalan yang tidak begitu banyak kendaran yang lewat. Gue masuk ke dalam kedai kopi itu, lalu duduk dan pelayan datang.
"Mau pesan apa mas ?" pelayan memberikan gue kertas yang berisi menu-menu yang ada dikedai kopi itu.
"Wedang jahe sama kopi susunya mas, dan roti bakarnya 1 porsi." Gue menawari dia wedang jahe, ditambah dengan sepiring roti tawar untuk 2 orang.
Gue menatap wajahnya Ina, kayanya dia hari ini cukup lelah, setelah gue ajak dia jalan-jalan berkeliling puncak-Bogor.
Enggak terasa kita mengobrol sambil memakan sepiring roti diatas meja yang lumayan besar, hujan diluat semakin lebat. Ketika asik mengobrol, gue melihat kearah Ina dengan memasang mata nanar kearah dia yang begitu indah dengan bulu mata yang lentik dan rambut yang dicupel.
Seketika gue melamun, dia mengagetkan gue yang lagi asik memandangi wajahnya dengan menepuk bahu gue..
"Oy, melamun terus, lagi mikirin siapa hayo ?" Dia menepuk bahu dan gue tersentak kaget. Untung gak jantungan gue.
"E.engga, engga mikirin siapa-siapa kok, itu dipipi kanan kamu ada coklat." Gue agak kagok menjawabnya dan memberanikan diri menyomot roti dengan mengusap pipi kanannya dengan tissue.
Setelah memberanikan diri untuk mengelap coklat dipipi kanannya tadi, saat itu gue hanya memandangi matanya dan terjadi keheningan selama 5 menit. Lalu dia menepuk pundak gue.
"Yok kita jalan lagi, udah malem nih, ujannya udah berhenti tuh."
"Jalan kemana ?" tanya gue bingung.
"Yaa pulang lah, emangnya mau nginep disini terus.."
Lalu kita berdiri dan meninggalkan kursi, berjalan menuju kasir untuk membayar kopi dengan sepiring roti. Gue berjalan keluar, melihat dia yang keliatannya begitu gembira sore ini. Saat lagi manasin motor, Ina memegang tangan gue. lalu memberikan gue sebuah kamera dan berkata "Ris, fotoin gue ya.."
"Iya oke, siap ya.. satu, dua, tiga.. crekk. begitu bunyinya."
Setelah waktu sudah semakin larut malam, gue ajak dia pulang sekarang, sebelum hujan turun lagi. "Na, pulang yuk, udah agak mendung nih, nanti takutnya hujan turun lagi". "Iya siip." Ina membalasnya.
Di jalan gue membawa motor dengan kecepatan sepelan mungkin, mungkin gue terlalu pelan sampe-sampe, mobil dibelakang gue, ngelaksonin terus. "Woy cepetan woy. Abang-abang truk dibelakang gue teriak-teriak, udeh kaya orang kebelet boker.
Sesampenya ditempat peristirahatan puncak, gue mampir dulu ke toko penjualan tape (dibaca : Peyeum), mau beli oleh-oleh buat emak dan juga Ina, karena disini dingin banget, gue sempet membelikan dia syal dengan warna kesukaannya.
Setelah berbelanja, membelikan dia boneka lucu untuk pemberian dari gue. Gue juga sempet membeli bunga untuk dia, soalnya dia ngarepin banget dikasih bunga sama pacarnya, namun sampe sekarang gak kesampean. Andaikan kita sama-sama saling suka, mungkin gue akan menyatakan rasa cinta ini secepatnya.
Gue rasa, kita memang bukan pacaran, tapi kenapa kita selalu berduaan? Andaikan kita itu sama-sama saling suka, mungkin gue akan menjaga Ina dari siapapun yang mendekati hatinya.
kami meneduh pada sebuah atap kanopi milik ibu-ibu warung yang pada saat itu sepi pengunjung
lalu beberapa saat perempuan disebelah gue bersin-bersin, sepertinya doi terkena flu
"Kamu sakit??" gue bertanya seraya duduk disebelahnya.
"Aku gppa kok,." Sambil membalas dengan senyum tipis berkesan memaksa.
seperti yang sudah gue duga, gppa-nya cewek pasti ada apa-apa "aku itu flu, kok kamu nggak peka banget sih, Hellloooohh!!"
Kasihan Ina, dia kedinginan, seharusnya gue nggak ngajak dia main ke puncak, saat dia baru sembuh dari sakitnya. Hati gue berkata. Lalu logika gue memerintahkan apa yang harus gue lakuin.. yasudah lu kasih dia jaket yang lu pake. Sekarang!!. Lalu gue mencopot jaket yang sedang gue pake.
"Ina.. Kayanya kamu kedinginan banget, wajah kamu pucet gitu, nih pake jaket gue aja." Kata gue sambil melepaskan jaket yang masih dipakai dan memberikannya ke dia.
"Yaudah boleh, tapi kamu kan kedinginan juga."
"Iya, gppa kok, aku udah biasa kedinginan." Padahal didalem hati, gue gak kuat nahan rasa dingin.
Seharusnya lu pakein tuh jaket, jangan cuma dikasih doang riis!!. Logika gue ngomel-ngomel. Lalu gue berfikir keras, Apa harus gue ambil lagi jaket itu, terus dipakein lagi ke dia. Yah, kesempatan itu sudah terlambat. Toh dia juga bukan siapa-siapa gue.
Hari itu gue cuma bisa terdiam menunggu hujan reda. Mata gue melirik ke arah Ina, sepertinya dia sudah nggak begitu kedinginan. Lalu tersadar saat hujan agak merintik, mata gue menerawang kedepan dan terlihat sebuah kedai kopi disebrang jalan, enggak jauh dari tempat gue meneduh..
"Ina", gue gak sengaja menyebut nama dia..
"Iyah.." dia menjawab, lalu menengok kearah gue.
"Sambil menunggu hujan berhenti, kita mampir ke kedai kopi dulu yuk.." Kata gue sambil nenunjuk kearah seberang jalan.
"Boleh, boleh, lumayanlah bisa ngangetin badan :)" Dia tersenyum manis kearah gue. Rasanya gue ingin terbang, tapi gue gak punya sayap buat terbang.
Lalu saat hujan agak reda, hanya gerimis yang terlihat, gue berjalan ke seberang jalan yang tidak begitu banyak kendaran yang lewat. Gue masuk ke dalam kedai kopi itu, lalu duduk dan pelayan datang.
"Mau pesan apa mas ?" pelayan memberikan gue kertas yang berisi menu-menu yang ada dikedai kopi itu.
"Wedang jahe sama kopi susunya mas, dan roti bakarnya 1 porsi." Gue menawari dia wedang jahe, ditambah dengan sepiring roti tawar untuk 2 orang.
Gue menatap wajahnya Ina, kayanya dia hari ini cukup lelah, setelah gue ajak dia jalan-jalan berkeliling puncak-Bogor.
"Setau gue, biasanya nih, ya. Kalo cewek baik-baik itu, bila kita mengajaknya jalan ketempat yang begitu jauh dari rumahnya, maka akan menjadi memori tersendiri untuknya."
Seketika gue melamun, dia mengagetkan gue yang lagi asik memandangi wajahnya dengan menepuk bahu gue..
"Oy, melamun terus, lagi mikirin siapa hayo ?" Dia menepuk bahu dan gue tersentak kaget. Untung gak jantungan gue.
"E.engga, engga mikirin siapa-siapa kok, itu dipipi kanan kamu ada coklat." Gue agak kagok menjawabnya dan memberanikan diri menyomot roti dengan mengusap pipi kanannya dengan tissue.
Setelah memberanikan diri untuk mengelap coklat dipipi kanannya tadi, saat itu gue hanya memandangi matanya dan terjadi keheningan selama 5 menit. Lalu dia menepuk pundak gue.
"Yok kita jalan lagi, udah malem nih, ujannya udah berhenti tuh."
"Jalan kemana ?" tanya gue bingung.
"Yaa pulang lah, emangnya mau nginep disini terus.."
Lalu kita berdiri dan meninggalkan kursi, berjalan menuju kasir untuk membayar kopi dengan sepiring roti. Gue berjalan keluar, melihat dia yang keliatannya begitu gembira sore ini. Saat lagi manasin motor, Ina memegang tangan gue. lalu memberikan gue sebuah kamera dan berkata "Ris, fotoin gue ya.."
"Iya oke, siap ya.. satu, dua, tiga.. crekk. begitu bunyinya."
Setelah waktu sudah semakin larut malam, gue ajak dia pulang sekarang, sebelum hujan turun lagi. "Na, pulang yuk, udah agak mendung nih, nanti takutnya hujan turun lagi". "Iya siip." Ina membalasnya.
Di jalan gue membawa motor dengan kecepatan sepelan mungkin, mungkin gue terlalu pelan sampe-sampe, mobil dibelakang gue, ngelaksonin terus. "Woy cepetan woy. Abang-abang truk dibelakang gue teriak-teriak, udeh kaya orang kebelet boker.
Sesampenya ditempat peristirahatan puncak, gue mampir dulu ke toko penjualan tape (dibaca : Peyeum), mau beli oleh-oleh buat emak dan juga Ina, karena disini dingin banget, gue sempet membelikan dia syal dengan warna kesukaannya.
Setelah berbelanja, membelikan dia boneka lucu untuk pemberian dari gue. Gue juga sempet membeli bunga untuk dia, soalnya dia ngarepin banget dikasih bunga sama pacarnya, namun sampe sekarang gak kesampean. Andaikan kita sama-sama saling suka, mungkin gue akan menyatakan rasa cinta ini secepatnya.
Gue rasa, kita memang bukan pacaran, tapi kenapa kita selalu berduaan? Andaikan kita itu sama-sama saling suka, mungkin gue akan menjaga Ina dari siapapun yang mendekati hatinya.


Komentar