Terkadang, tuhan hanya mempertemukan bukan menyatukan
Terkadang kita harus kembali mengingat hal yang menakutkan untuk mencari pelajaran, karena konon katanya hanya seseorang yang berani menghadapi masa lalu pahit yang berhak mendapatkan masa depan manis. Kata seorang pendaki muda asal Bandung
Melihat wanita dari sudut pandang terbaik itu bukan ketika ia di rias oleh perpaduan bedak dan pensil alis, tetapi ketika ia bangun dari tidur panjangnya.
"Assalamualaikum, Assalamualaikum"
Bentuk ketukan salam dari ku tidak terjawab oleh penghuni rumah, sesaat hendak berbalik badan terdengar suara langkah kaki beserta barang jatuh tepat di balik pintu.
"Wa'alaikumsalam, cari siiapaa??"
Terlihat wajah ranum berbalut rambut yang berantakan, seperti seseorang putri tidur. Kemudian ia cepat-cepat menutup pintu, namun kembali di buka dengan 100 rasa panik.
"Lho, mas.. Katanya janjian jam 03.00 sore, kok jam 1 sudah disini"
"Maaf dek, mas dateng lebih awal, agar kita bisa jalan bareng"
"Aku baru bangun mass"
"Kamu cantik, dek"
Wajah memerah seakan udang di wajan sudah matang.
Kita hanya bejarak kurang dari 1 meter, mata ku menatap wajahnya yang sayup manis tanpa beriaskan asesoris, sangat cantik. Akan tetapi ia hanya akan memperdebatkan dengan kalimat sakti "Aku biasa aja kok, ngga cantik"
Kalimat tersebut seperti belati menyayat hati, memecahkan rasa insecure seorang pria untuk mendapat kan hati, kalau saja yang tanpa make up saja sudah cantik, apalagi sudah berbalut riasan.
Sore itu kami akan menonton konser di Ibu Kota Jakarta, rencana tanpa perencanaan aku menemukan selembaran brosur dari sosial media kemarin sore, saat hendak membagikan karya tulis ku. Kemudian tanpa kesiapan mental, aku memberanikan untuk mengajak seseorang teman online *bukan dating apps
"Guys, sabtu malam minggu ada waktu nggak?"
Keberanian ku hanya cukup untuk mengajak semuanya, jika mengajaknya salah satu yaitu dia yang di tuju ada kemungkinan aku terdiam mati kutu.
Setelah ia menyiapkan segalanya dengan sekitar 2 jam menabur make up agar terlihat mempesona di hadapan semuanya, ketika aku sedang menunggu di ruang tamu di suguhi kaleng khongguan berisi rengginang, ia keluar dari pintu kamar nya.
"Masya Allah"
tanpa sadar aku meneterkan air mata terpukau melihatnya
"Aduh mata ku kemasukan bubuk rayap"
"Aaa sorry, aku lupa kalau di atas pintu ada serbuk kayu, sebentar aku carikan obat tetes mata"
Persiapan jalan rame-rame sore itu diiringi drama mata kelilipan pup rayap, sampai mata aku merah gara-gara gatal berkeinginan untuk menggaruk, setelah ia menemukan obat tetes mata yang tepat, aku bisa lega menggerakan bola mata ke kiri dan kembali menatap.
Kemudian aku terbangun dari tidur di dalam mobil dengan udara pengap, mengcheck notifikasi whatsapp, sambil menunggu yang lain datang, lalu aku keluar dari mobil dan duduk di bawah pohon tepat berada di seberang rumahnya
Sekitar pukul 4 sore, teman yang lain sudah berkumpul ria di hadapan ku dengan cengkrama yang riang menyelimuti pertemuan ke kedua,
"Haii Ari, apa kabar lo?" Ucap Tias
"Baiik, Ti. eh ituu?"
"Mereka teman kerja gue, gppa kan gue ajak. mobil lo masih kosong kan, tadi udah izin ke mba Dinda"
Hoii, harus nya lo izin ke gue dulu, kenapa ke Dinda. Dinda aja baru kali pertama gue ketemu. Teriak ku membatin. setelah mereka siap untuk berangkat. Sore itu menjadi sore paling riuh seisi mobil dipenuhi mereka.
Ketika konser sudah mulai dan salah satu dari teman kami bernyanyi dengan teriakan melengking
"Tak perlu khawatir aku hanya terluka, terbiasa tuk pura-pura tertawa. HAHAHA"
----------------
Kemudian Dinda bertemu teman pria, seperti mantannya, kemudian ia berbincang agak menjauh menyisak tangiskan perasaan ku, sepertinya belati yang sudah di cabut kembali menancap
musik resah jadi luka nya daun jatuh seakan menjadi saksi atas kejadian ini,
"Tapi tiba-tiba seakan kau pergi, melepas rangkulanku tanpa sebab"
aku agak menjauh dari kerumunan, berdiri di pelataran sudut ruangan yang terdapat cargo penjual minuman dingin
"Tapi setidak nya kau telah merubah ku dari resah menjadi luka" Ucap ku malam itu
*Terkadang, tuhan hanya mempertemukan bukan menyatukan*


Komentar